Jembatan Gladak Perak

loading...
Mau terjun,tapi takut ^^

Maen Sepur'an 


Bagi masyarakat Lumajang dan Malang, Gladak Perak di Pronojiwo bukanlah tempat asing lagi. Jembatan ini jadi penghubung utama Lumajang-Malang yang topografinya bergunung-gunung. Inilah penghubung satu-satunya dari Lumajang ke Malang atau sebaliknya. Dibalik jalanan yang penuh kelokan, terhampar indah Samudera Indonesia dan sejuknya hawa pegunungan di lintasan jalur selatan Jawa ini.

Gladak Perak tak hanya sebagai jalur penghubung dua kota ini. Tempat ini punya nilai sejarah cukup tinggi di era kemerdekaan. Gladak Perak sesungguhnya dibangun pada 1925 untuk menghubungkan wilayah timur dan tenggara Gunung Semeru. Jembatan ini berdiri di atas Sungai Besuk Sat, salah satu aliran primer lahar dingin Gunung Semeru. Cat perak pada sisi pembatas jembatan ini menjadikannya terkenal dengan sebutan “Gladak Perak”.

Gladak Perak tak sekedar sebagai penghubung, juga memunyai nilai sejarah cukup tinggi di era penegakkan kemerdekaan. Pada 1947, jembatan ini dibumihanguskan (diledakkan) oleh Zeni Pioneer (22 Jatiroto) untuk memutus mobilitas tentara Belanda ke arah Pronojiwo. Dua wilayah ini pun terpisah hingga selesai dibangun kembali pada 1952. Pada dekade 2000-an, Glada Perak tak difungsikan lagi akibat semakin tak memadainya kondisi jembatan. Pemerintah membangun kembali jembatan baru di sisi selatan Gladak Perak. By :Arbiter

Menurut mitos yang dipercaya masyarakat setempat, fondasi jembatan lama dibangun dengan tumbal gelang perak milik seorang penari ledek cantik sebagai penolak bala. Dari situlah muncul sebutan Gladak Perak atau Jembatan Perak.

Dari arah Lumajang, di sisi kiri jalan terhampar pemandangan lembah sungai hingga laut selatan. Di sepanjang perjalanan, ada 15 pondok bambu yang menjajakan makanan dan minuman.

Di sebuah puncak bukit, titik tertinggi di jalur jalan ini, terdapat tempat yang dinamakan Piket Nol. Di sana ada sejumlah pondok bambu untuk beristirahat.

Menurut masyarakat sekitar, tempat itu dinamakan Piket Nol karena pada zaman penjajahan Belanda, ada pos pemeriksaan kendaraan pengangkut hasil bumi dan hutan di tempat itu.

Muatan kendaraan diperiksa dan ditarik retribusi. Namun, setiap kali ada pemeriksaan oleh pejabat Pemerintah Belanda, petugas piket jaga di pos itu tidak pernah ada. Maka, muncul sebutan Piket Nol.

Dari hutan wisata di atas bukit ini, tersaji pemandangan bentang alam kawasan pantai di selatan dan puncak Semeru yang gagah di utara.
loading...

JANGAN LUPA! TINGGALKAN JEJAK DISINI KAWAN