loading...

Jadi, sebelum "Ayo Kerja!", "Ayo Berpikir !" terlebih dahulu


Invisible hand dalam terma ekonomi yang diyakini mencapai equilibrum bukan dogma suci yang tak bisa digugat. Jika BPS bisa menghitung setiap jiwa di Indonesia, tentu tidak sulit untuk menghitung jumlah sapi dan menentukan berapa kebutuhan dan stok yang tersedia. Tetapi, selama pasar bebas yang didewakan, sampai kulit durian selicin kedondong, mustahil melakukannya. Jika bisa dipastikan dan disepakati, mengapa harus dipasrahkan ke mekanisme pasar? Setahu saya, pasar itu tidak bisa dipegang, ghaib, abstrak. Kartel dan sebutan jejadian lainnya hanyalah akibat dari sebab yang kita biarkan sendiri. Bukankah ilmu lebih dahulu sebelum perbuatan? Jadi, sebelum "Ayo Kerja !", "Ayo Berpikir !" terlebih dahulu
loading...

"Lebih baik aku lelah mengejar matahari, daripada aku berdiam diri menunggu bintang jatuh"

Share this

Related Posts

loading...